Semprotka Ayah dan Pedihnya Kita Berjauhan (Catatan Pinggir: Bahtiar Parenrengi)



BONETERKINI.COM-Seolah jari-jari ini tak mampu menekan tombol handphon untuk menulis catatan pinggir. Entah mengapa. Jemari ini sangat sulit untuk merangkai kata. 

Mungkin banyakan membaca dan mendengar berita tentang corona. Tentang Virus Covid-19 yang membuat warga dunia panik. 

Entahlah. Padahal saya selalu berusaha untuk tidak membaca dan mendengarkan info, yang terkadang mejadikan jantung berdetak kencang. Pilih bacaan atau tontonan yang adem. 

Tentang corona. Memang telah membuka mata warga dunia. Berita hadir setiap saat, sungguh membuat rasa takut makin mendera. Ada yang tiba-tiba jatuh dan mati (vidio). 

Serbuan informasi sulit dibendung. Entah benar maupun tidak. Menerobos masuk ke medsos maupun lewat percakapan WA dan via TV. Kita dalam kondisi yang mencemaskan, kata pengkhutbah saat Shalat Jumat. 


                 ***
Percakapan di warung kopi juga didominasi tentang corona. Tak peduli benar atau tidak, bagaikan rasa kopi yang terasa manis dan pahit. Larut dan masing-masing mengeluarkan cerita. 

Cerita terus mengalir, tak ketinggalan  dibarengi cerita lucu dan irrasional, seperti bayi yang baru lahir mengeluarkan titah untuk makan telur saat tengah malam. 

Lantas dimanakah kita bisa berlindung saat virus covid-19 semakin tak terkendali? Dirumah saja. Begitu banyak himbauan. Kita diharapkan untuk berdiam diri dirumah, karena model penyebarannya begitu cepat, karena berinteraksi dengan pengidap. 

Teriakan banyak yang sumbang. Karena kalau dirumah, bagi warga yang tak memiliki pekerjaan yang menentu pasti bakal kerepotan. Mau makan apa. Ndak keluar ndak makan. Cuitan-cuitan semacam itu terus viral dan masuk akal. 

Dalam klas sosial, seperti kelas menengah kebawah memang kita diperhadapkan dengan kendala semacam itu. Kita diperhadapkan dengan harga kebutuhan pokok mulai merangkak naik serta pemasukan yang mulai menurun dan bahkan menghilang. 


                  ***
Semprotka ayah. Teriakan sayup terdengar. Minta disemprot, bukan semprot amarah. Tapi ternyata minta disemprot desinfektan. 

Semprotan semacam ini menjadi keharusan dimana-mana. Entas di fasilitas sosial, perkantoran maupun berbagai tempat seperti di perbatasan antar kabupaten.

Tak heran, cairan semacam ini menjadi trend dan langka di pasaran. Tak hanya desinfektan, tapi juga menjadi barang buruan seperti masker, hand sanitizer dan lainnya yang berkaitan dengan virus Covid-19.

Masker akhirnya banyak diburu warga karena ketakutan tertular virus Covid-19. Penyebaran yang dianggap paling memungkinkan adalah melalui droplet alias percikan batuk dan bersin dari pasien yang positif Covid-19.

Untuk mencegah penyebaran dan menulari orang lain, WHO dan Kementrian Kesehatan (Kemenkes) Indonesia pun menghimbau agar pasien dan mereka yang terindikasi menggunakan masker. Hanya saja himbauan penggunaan masker ini juga diikuti oleh banyakan orang yang tidak terjangkit. 

Permintaan akan masker pun meningkat drastis. Kejadian ini jelas menjadi sebuah peluang usaha yang menjanjikan. Wabah corona menjadi sangat mungkin meraup keuntungan yang lebih banyak. 

Harga masker yang biasanya perlembar dijual Rp2.000 an,  kini harganya telah melonjak hingga 5 hingga 10 kali lipat. 

Selain masker, produk kesehatan lain seperti hand sanitizer juga sempat menghilamg.  Sama seperti masker, harga jual hand sanitizer juga sempat melambung puluhan kali lipat.

Kini, kita berharap agar corona cepat berlalu. Kita tahu bahwa kita dalam kondisi cemas yang berlebihan. Cemas tertular virus Covid-19 dan cemas dalam perekonomian. 

Cukuplah kita belajar dari musibah ini bahwa Corona mengajarkan kita, betapa pedihnya kita berjauhan. 

Betapa tersiksanya kita tak berpegangan tangan. Dulu kita telah berjabat tangan dengan erat saat bersua, dan kini semakin sulit. Kita saling curiga tentang siapa diantara kita menjadi kurir Virus Covid-19. Entahlah. Dan kita yakini,  Corona  pasti berlalu.(*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.