Ramadhan Pergi, Sudahkah Kita Menjadi Lebih Baik?

Oleh : Sujitno Ngadino (Ketua Makassar Peduli)

BONETERKINI.COM - Ramadhan telah meninggalkan kita. Bulan yang penuh berkah itu kini hanya tinggal kenangan. Suasananya yang hangat, kebersamaan saat sahur dan berbuka, serta lantunan doa di malam hari semuanya seakan berlalu begitu cepat.

Ada rasa sedih yang sulit dijelaskan. Bukan sekadar karena waktu berlalu, tetapi karena kita sadar belum tentu bisa bertemu lagi dengan Ramadhan berikutnya. “Iyya, Ramadhan polemi, tapi ati’ta masi macinnong di lino na masagala rasa rindu.” (Yaa, Ramadhan telah pergi, tapi hati kita masih terdiam dengan rasa rindu yang dalam).

Di bulan itu, kita belajar banyak hal. Tentang sabar, tentang berbagi, dan tentang arti kebersamaan. Kita melihat senyum orang-orang yang menerima bantuan, kita merasakan hangatnya berbagi walau dengan hal sederhana. “Mali siparappe, rebba sipatokkong,” kebersamaan itu terasa begitu nyata saling membantu dan saling menguatkan.


Namun kini, suasana itu perlahan memudar. Masjid tidak lagi seramai kemarin, suara tadarus mulai jarang terdengar. Kita kembali sibuk dengan urusan dunia. “Engka mappoji ati’, narekko ingat ki, apa iya’ natemmangingngi alebbireng Ramadhan?” (Ada rasa di hati, ketika kita ingat, apakah kita sudah benar-benar memanfaatkan kemuliaan Ramadhan?).


Ramadhan mengajarkan kita untuk menjadi lebih baik. Tapi pertanyaannya, apakah kebaikan itu akan tetap kita jaga setelah ia pergi?


Kesedihan ini seharusnya bukan hanya tentang perpisahan, tetapi juga menjadi pengingat. Pengingat bahwa waktu terus berjalan, dan kesempatan tidak selalu datang dua kali. “Aja’ mulettei pappojiki ri madecengnge,” (jangan berhenti berbuat kebaikan), meski Ramadhan telah usai.


Semoga apa yang kita tanam di bulan Ramadhan tetap tumbuh di bulan-bulan berikutnya. Dan semoga, jika Allah masih memberi umur, kita bisa kembali bertemu dengan Ramadhan dengan hati yang lebih siap, dan iman yang lebih kuat.


“Mappoji ki ri Puangnge, na mappasitinaja ki attangngngereki Ramadhan ri taun mappunnai.” (Kita berharap kepada Tuhan, semoga dipertemukan kembali dengan Ramadhan di tahun yang akan datang)

Komentar

Berita Terkini