Aku Bukan Munsyi, Tapi Kata-Kata Menemukanku

BONETERKINI.COM - Meskipun aku bukan seorang munsyi yang sudah memerdekakan diri dari penjajahan hurup, bahkan dalam banyak kejadian, aku bisa menjadikan bahasa Indonesia sebagai sebuah permainan gramatikal yang mengasyikkan.

Munsyi Melayu - Indonesia  yang terkenal di antaranya Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi, Raja Ali Haji al Munsyi,  Sutan Takdir Alisyahbana al Munsyi, HB Jassin al Munsyi, Ajib Rosidi al Munsyi , Pramudya Ananta Toer al Munsyi, WS Rendra al Munsyi,  Remy Silado al Munsyi dll. 

Beberapa hari lalu, aku menulis sebuah mozaik perjalanan bunga abadiku berjudul _Edelweis__, dan aku meminta agar para sahabat memberikan komentar. Tiga dari beberapa orang yang memberi komentar pilihan tentang diriku kutulis kembali dalam catatan Lontara ini.

Pertama_, Johansyah Haruna, lebih familiar dipanggil Jho, kadang menghibur dirinya dengan menyanyi pakai gitar di warkop Florian. Dia menulis bahwa cinta yang dikenang  pastinya bukan cinta biasa. Wujudnya penuh pengorbanan, kesetiaan, atau bahkan luka yang belum sepenuhnya sembuh. Saya angkat topi dengan ingatan dan kekayaan referensi kosa kata dari Amure.

Seorang pujangga atau penyair sering kembali ke masa lalu, mengulang momen-momen kecil yang bagi orang lain mungkin biasa saja, tapi baginya sangat bermakna. Perasaan cintanya dituangkan dalam bahasa yang puitis: metafora, perumpamaan, dan simbol. Misalnya, kenangan bukan sekadar _ingat kamu_, tapi  menjadi: Menapak Merapi dan petik edelweis kesematkan di rambutmu. Wanita Jawa yang sempurna, senyum Ken Dedes dan pahamu yang bening membuatku  sebagai Arok preman tengil yang sholeh dari pesantren. Amazing, melankolis yang sangat indah. Kami seperti turut  tenggelam dalam suasana sendu, namun tidak sekadar sedih. 

Kesedihan itu dirangkai jadi sesuatu yang indah - seperti luka yang dipoles kata-kata, dan pastinya saya sebagai fans fanatik menjadikan ini sebagai motivasi dan referensi untuk mengikuti jejak sang guru,  untuk tidak hanya bisa mengabadikan pengalaman dalam bentuk tulisan indah,tapi bisa memaknai dan menularkan kebaikan, kebenaran dan keindahan kepada siapa saja. 

Kedua_, apresiasi dari Doktor Kasmiyah, seorang akademisi lebih akrab dipanggil dengan ibu Miyo, sang pelatih,  memberikan komentar bahwa penggalan perjalanan ini - Andi Muawiyah Ramly - seperti senja yang tak pernah benar-benar selesai indah, tapi menyimpan perih yang tak sempat diucapkan. Ada cinta yang tumbuh diam-diam, lalu gugur sebelum sempat dinamai. Ada nama yang masih tinggal di ingatan, meski waktu telah berusaha menghapusnya perlahan. Meski telah berjalan jauh, melintasi kota dan benua, tapi yang dicari ternyata tak pernah benar-benar pergi, ia hanya berubah menjadi rindu yang menetap. Dan di antara semua perjalanan itu, yang paling melelahkan bukan langkah kaki, melainkan hati yang terus kembali pada seseorang yang tak lagi menunggu.

Ketiga_, sebuah ulasan yang belakangan aku tahu sebagai komentar kolaborasi Andi Tandrawali, Ince Sulaiman dan Jho.  Dia uraikan bahwa  tulisanku sangat  indah, penuh lapisan kenangan, rindu, dan refleksi diri yang mendalam. Seperti sebuah puisi yang ditulis dengan darah dan napas yang membebani raga, tapi justru menjadi sumber kehidupan sekaligus beban yang manis. Yang paling menyentuh adalah cara merangkai perjalanan hidup di mana semua tempat itu bukan sekedar lokasi geografis, melainkan stasiun-stasiun emosi asmara yang datang silih berganti. 

Bahasanya hidup sekali yang kadang pongah, kadang menyesal, kadang tertawa pada diri sendiri _ahuhuahihi_. Hal itu membuat tulisan ini terasa sangat otentik, bukan dibuat-buat untuk indah, tapi memang lahir dari luka dan sukacita yang sudah teruji waktu.

Dialah pemilik catatan ini, yang setia memikul salib takdirnya, dan masih terus genggam hati ke mana pun pergi,  ingin kembali kepada sosok yang tak lagi menunggu, seperti tulisan kasyaf profetis doktor Miyo.

Komentar

Berita Terkini