Bone Belum Selesai : Luka yang Tak Pernah Terliput

Oleh : Sujitno Ngadino (Ketua Millenial Peduli bone)


Ada bagian dari Kabupaten Bone yang jarang sekali tercatat dalam lembar laporan, apalagi digaungkan dalam pidato yang lantang. ia bukan kota, bukan pula pusat pembangunan. ia adalah pelosok desa tempat di mana sunyi lebih sering berbicara daripada janji.

Sebagai seorang penulis, saya tidak sedang menyusun cerita fiksi. Apa yang saya tuliskan adalah kenyataan yang bisa kita jumpai di pelosok Desa Bontopadang tentang warga yang hidup dalam keterbatasan. Ini bukan hasil imajinasi, melainkan potongan-potongan realitas yang kerap luput dari perhatian.


Di sana, di ujung desa yang jauh dari jangkauan kebijakan, hidup sekelompok manusia yang seakan ditakdirkan untuk akrab dengan kekurangan. Rumah mereka berdindingkan harap yang rapuh. Atapnya menahan hujan seadanya, Ada dapur yang jarang mengepul, bukan karena tak ingin memasak, tetapi karena tak ada yang bisa dimasak.


Seorang nenek pernah berkata sambil meneteskan Air mata, “Kami tidak butuh kaya Nak… cukup bisa makan hari ini saja nak.” Kalimat itu sederhana, tapi justru di situlah letak luka yang paling dalam. Ketika cita-cita manusia direduksi hanya menjadi bertahan hidup, maka ada yang keliru dalam cara pemetintah ini merangkul warganya.


Anak-anak berlarian tanpa alas kaki, bukan karena ingin merasakan tanah, tetapi karena memang tak punya pilihan. Sekolah menjadi tempat yang jauh, bukan hanya secara jarak, tetapi juga secara kemungkinan. Mereka tumbuh lebih cepat dari usianya dipaksa dewasa oleh keadaan yang tak pernah ramah.


Wahai pemimpinku, mungkin angka-angka kemiskinan telah engkau baca, grafik-grafik telah engkau pahami. Namun pernahkah engkau menyentuh langsung realitas itu? Pernahkah engkau duduk di lantai tanah, mendengar kisah tanpa jeda dari mereka yang hidup dalam kekurangan ekstrem?


Karena di sini, kemiskinan bukan sekadar istilah. Ia adalah wajah-wajah letih yang menatap masa depan dengan ragu. Ia adalah perut-perut kosong yang belajar berdamai dengan lapar. Ia adalah doa-doa panjang yang dipanjatkan tanpa kepastian akan dikabulkan.


Sebagai penulis, saya hanya bisa merangkai kata. Tapi kata-kata ini bukan sekadar tulisan ia adalah titipan suara mereka yang tak punya ruang untuk bersuara. Mereka tidak meminta kemewahan, tidak pula iri pada gemerlap kota bone. Mereka hanya ingin dianggap ada.


Kabupaten Bone ini tidak akan benar-benar besar jika masih ada warganya yang merasa kelaparan.


Wahai pemimpinku, jika suatu hari engkau membaca tulisan ini, anggaplah ini bukan kritik, melainkan panggilan. Panggilan dari pedesaan yang lama menunggu untuk diperhatikan.


Sebab di sana, di antara sunyi dan keterbatasan, masih ada rakyatmu yang setia berharap meski harapan itu perlahan mulai retak.

Komentar

Berita Terkini