Oleh: Dany Rahmat Muharram (Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah)
BONETERKINI.COM - Perdebatan tentang masa depan pendidikan Indonesia sering berpusat pada kurikulum, teknologi pembelajaran, hingga daya saing global. Namun ada satu fondasi yang jarang dibicarakan secara serius, yaitu kondisi tubuh pelajar itu sendiri.
Sebab sebelum berbicara tentang kecerdasan, inovasi, atau kepemimpinan masa depan, ada pertanyaan sederhana yang perlu dijawab terlebih dahulu, apakah pelajar Indonesia tumbuh dalam kondisi gizi yang memadai?
Dalam konteks inilah program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diinisiasi oleh Presiden Prabowo Subianto dapat dibaca.
Program ini tidak hanya berkaitan dengan penyediaan makanan bagi siswa, tetapi juga menyentuh persoalan yang lebih mendasar dan sederhana yaitu bagaimana memastikan pelajar memiliki kondisi biologis yang memungkinkan mereka belajar secara optimal.
Selama ini pembangunan pendidikan sering dipahami melalui pendekatan struktural. Kita berbicara tentang perbaikan kurikulum, pembangunan infrastruktur sekolah, hingga pemanfaatan teknologi digital dalam pembelajaran. Semua itu penting. Namun pendidikan pada akhirnya tetap bergantung pada satu hal yang sangat mendasar, yaitu soal kemampuan tubuh dan otak pelajar untuk menerima serta mengolah pengetahuan.
Dalam banyak kajian kesehatan dan pendidikan, nutrisi terbukti memiliki hubungan erat dengan perkembangan kognitif. Studi dari Johns Hopkins University melalui Bloomberg School of Public Health menunjukkan bahwa pemenuhan gizi pada usia sekolah berpengaruh signifikan terhadap perkembangan fungsi otak.
Kekurangan nutrisi pada masa pertumbuhan tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kemampuan belajar dan potensi intelektual anak dalam jangka panjang.
Artinya, ketika seorang pelajar datang ke sekolah dengan kondisi tubuh yang tidak mendapatkan asupan gizi yang cukup, proses belajar sesungguhnya sudah berlangsung dalam keadaan yang tidak sepenuhnya setara.
Konsentrasi belajar menjadi lebih sulit, daya tangkap menurun, dan energi untuk mengikuti kegiatan pembelajaran tidak optimal.
