BONETERKINI.COM - Atmosfer sepak bola dunia sedang mencapai titik didih. FIFA World Cup 2026 menghadirkan sejarah baru sebagai Piala Dunia pertama yang digelar di tiga negara sekaligus : Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Sebanyak 48 negara saling adu strategi, adu mental, dan adu keberuntungan demi mengangkat trofi paling bergengsi di dunia.
Namun, bagi saya, ada satu pertandingan yang rasanya selalu berbeda. Bukan final, bukan pula laga pembuka. Melainkan duel klasik dua tetangga di Semenanjung Iberia: Portugal versus Spanyol.
Sebagai penggemar Portugal, jujur saja, setiap bertemu Spanyol jantung rasanya ikut melakukan pemanasan. Belum peluit pertama dibunyikan, grup WhatsApp sudah lebih dulu ribut. Ada yang mendadak menjadi pelatih, komentator, bahkan peramal skor. Semua yakin tim jagoannya akan menang, padahal yang benar-benar berkeringat nanti tetap para pemain di lapangan.
Entah mengapa, setiap melihat Portugal menghadapi Spanyol, pikiran saya justru melayang jauh ke masa lalu. Saya teringat kisah tentang Al-Andalus, sebuah peradaban besar yang pernah berdiri di wilayah yang kini menjadi Spanyol dan Portugal.
Berabad-abad silam, kawasan itu pernah menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia. Dari sana lahir berbagai kemajuan dalam bidang kedokteran, astronomi, matematika, hingga filsafat. Orang-orang dari berbagai penjuru datang untuk belajar. Singkatnya, kalau zaman itu sudah ada internet, mungkin Al-Andalus sudah menjadi "Google"-nya dunia.
Sayangnya, kejayaan sebesar itu tidak runtuh karena musuh yang terlalu hebat, melainkan karena perpecahan dari dalam. Wilayah-wilayah kecil yang dikenal sebagai kerajaan Taifa lebih sibuk mempertahankan ego dan berebut kekuasaan. Bahkan, ada yang rela bekerja sama dengan pihak luar demi mengalahkan sesama.
Akibatnya bisa ditebak. Satu demi satu wilayah jatuh.
Setelah jatuhnya Granada, banyak manuskrip dan pusat-pusat keilmuan mengalami kehancuran sehingga sebagian warisan intelektual Al-Andalus hilang tanpa sempat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Bangunan-bangunan bersejarah pun berubah fungsi. Contoh paling jelas adalah Masjid Agung Cordoba, yang dahulu menjadi pusat ibadah sekaligus pusat pendidikan, kemudian dialihfungsikan menjadi katedral. Arsitektur megahnya masih berdiri, tetapi sejarahnya menjadi pengingat bahwa kejayaan tidak selalu abadi.
Pada akhirnya, pengusiran besar-besaran terhadap umat Muslim terjadi. Banyak yang dipaksa meninggalkan tanah kelahirannya. Sebuah peradaban yang pernah menerangi dunia perlahan hanya tinggal catatan dalam buku sejarah.
Untungnya, pertandingan Portugal melawan Spanyol hari ini hanya berlangsung selama 90 menit, bukan berabad-abad seperti kisah Al-Andalus. Yang diperebutkan hanyalah tiga poin atau tiket ke babak berikutnya, bukan wilayah kekuasaan.
Maka, sebagai penggemar Portugal, saya hanya berharap satu hal : semoga Cristiano Ronaldo atau siapa pun yang mengenakan seragam merah-hijau bermain sebaik mungkin. Kalau Portugal menang, saya akan tersenyum lebar. Kalau kalah, ya... paling bilang, "Yang penting mainnya bagus." Meski dalam hati tetap butuh waktu beberapa hari untuk move on.
Sepak bola memang soal menang dan kalah. Namun sejarah mengajarkan bahwa ego, permusuhan, dan perpecahan jauh lebih berbahaya daripada kekalahan di atas lapangan. Sebab pertandingan akan selalu berakhir ketika peluit panjang berbunyi, sedangkan persatuan adalah kemenangan yang seharusnya dijaga sepanjang waktu.